Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) terus berupaya memperkuat ekosistem penerbitan. Melalui penerbitan, Perpusnas turut memperluas akses masyarakat terhadap bacaan bermutu. Salah satu upaya yang dilakukan ialah memetakan sebaran penerbit, terbitan, dan subjek bacaan di berbagai wilayah Indonesia. Upaya tersebut menjadi landasan penyusunan kebijakan perbukuan yang lebih tepat sasaran.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi seiring perkembangan teknologi digital. “Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet Indonesia pada 2026 mencapai 81,72 persen atau sekitar 235,26 juta penduduk,” terangnya saat membuka Webinar Puspa Pemustaka ke-46 bertajuk Peta Aksara, Mengulik Penerbitan Indonesia, secara daring, Kamis (22/10/2026).
Perkembangan ini, menurutnya, membuka peluang untuk memperluas akses terhadap pengetahuan melalui buku digital. Suharyanto berpendapat, kondisi ini juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan bibliografi digital dan perlindungan hak cipta.
“Dunia penerbitan hari ini dituntut untuk terus beradaptasi secara cepat dan tepat dengan perkembangan teknologi informasi, terutama dalam merespons perubahan pola perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan pengetahuan,” ujarnya.
Menurutnya, penerbitan bukan sekadar sektor bisnis kreatif, melainkan ekosistem yang memproduksi sekaligus mendistribusikan pengetahuan. Karena itu, penguatan perlu dilakukan dari sisi produksi maupun distribusi. Penulis dan penerbit diharapkan menghasilkan konten berkualitas, berbasis riset, edukatif, serta responsif terhadap perkembangan zaman. Sementara itu, distribusi pengetahuan perlu menjangkau masyarakat hingga pelosok desa dan perpustakaan komunitas.
Dalam webinar tersebut, Pustakawan Ahli Utama, Nelwaty memaparkan pentingnya kajian pemetaan penerbitan Indonesia untuk memperoleh gambaran mengenai pelaku penerbitan, lokasi penerbit, jumlah terbitan yang tercatat, serta subjek pengetahuan yang diterbitkan. Ia menjelaskan, kajian ini dilatarbelakangi oleh semakin beragamnya pelaku dan format penerbitan, termasuk penerbitan digital dan mandiri. Sementara, ia menyebutkan, pemetaan nasional yang mengintegrasikan berbagai sumber data masih diperlukan.
Kajian tersebut menggunakan empat sumber data. Pertama, jumlah penerbit yang tercatat sebagai anggota aktif Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Ke dua, bahan pustaka yang tercatat dalam International Standard Book Number (ISBN). Ke tiga, koleksi bahan pustaka yang terdata dalam Serah Simpan Karya Cetak Karya Rekam (SSKCKR). Ke empat, Katalog dalam Terbitan (KDT). Keempatnya digunakan untuk memetakan penerbitan Indonesia.
Melengkapi pemaparan dan diskusi, Pustakawan Muda, Irham Hanif, menyoroti peran perpustakaan dalam penerbitan karya. Ia menegaskan bahwa perpustakaan tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga perlu berperan dalam penerbitan karya berkualitas.
“Tugas kita sebagai pustakawan zaman kini bukan lagi sekadar menunggu orang datang membaca buku, melainkan menemukan siapa yang akan menuliskan pengetahuan tersebut dan memastikan bahwa ketika buku itu lahir, ia lahir dan terbit dengan benar,” ujarnya.
Irham juga menekankan pentingnya memperhatikan kualitas naskah, perlindungan hak cipta, pengurusan ISBN, serta kewajiban serah simpan karya cetak dan karya rekam dalam proses penerbitan. Ia menekankan, distribusi melalui jalur fisik maupun digital turut perlu direncanakan agar karya yang diterbitkan dapat diakses masyarakat. ***(FM/ ed:DRS/ Dok: AA)
Sumber: Perpusnas
AlpinJolala (Muhammad Alfin Ramadhan)

Tulis Komentar